Sejak 28 Maret 2026, pemerintah resmi menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang dikenal sebagai PP Tunas. Aturan ini menjadi tonggak baru dalam pengelolaan aktivitas digital anak di Indonesia.
Bagi sebagian orang tua, istilah PP Tunas mungkin masih terdengar asing. Namun dampaknya sudah mulai terasa di rumah. Anak yang biasanya bebas menggunakan media sosial kini mulai mengalami pembatasan, bahkan ada yang akunnya tidak bisa digunakan.
Agar tidak membingungkan, berikut penjelasan sederhana dan langsung pada hal yang perlu dipahami orang tua.
Apa Itu PP Tunas?
PP Tunas adalah aturan pemerintah yang bertujuan melindungi anak saat menggunakan internet dan platform digital.
Fokus utamanya adalah mengurangi risiko yang dihadapi anak di dunia online. Risiko tersebut meliputi:
- Paparan konten tidak sesuai usia
- Interaksi dengan orang asing yang berbahaya
- Perundungan siber
- Kecanduan penggunaan gadget
Aturan ini tidak melarang anak menggunakan internet sepenuhnya. Namun, aksesnya diatur agar sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka.
Siapa yang Terdampak?
Yang paling terdampak adalah anak di bawah usia 16 tahun.
Platform digital kini diwajibkan untuk:
- Membatasi akses akun anak
- Menonaktifkan akun tertentu
- Mengurangi fitur yang bisa digunakan
- Memastikan ada sistem perlindungan tambahan
Beberapa platform besar yang sudah mulai menerapkan aturan ini antara lain YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, hingga X.
Artinya, jika anak Anda masih di bawah 16 tahun, kemungkinan besar akan mengalami perubahan saat menggunakan aplikasi tersebut.
Kenapa Pemerintah Membuat Aturan Ini?
Pemerintah melihat bahwa penggunaan internet oleh anak meningkat sangat cepat, tetapi tidak diimbangi dengan perlindungan yang memadai.
Anak bisa mengakses hampir semua jenis konten tanpa filter yang jelas. Selain itu, sistem di banyak platform dirancang untuk membuat pengguna terus berlama-lama, termasuk anak-anak.
Kondisi ini dianggap berisiko, terutama dalam jangka panjang. Oleh karena itu, PP Tunas hadir untuk memberi batas yang lebih jelas.
Apa yang Berubah di Aplikasi?
Perubahan yang terjadi bisa berbeda di setiap platform, tetapi umumnya mencakup hal berikut:
- Akun anak tidak bisa digunakan secara penuh
- Beberapa fitur dinonaktifkan
- Waktu penggunaan dibatasi
- Akun bisa terkunci otomatis
Dalam beberapa kasus, akun masih bisa dibuat, tetapi langsung dibatasi setelah sistem membaca usia pengguna.
Bagi anak, ini bisa terasa seperti “error” atau masalah teknis. Padahal, ini adalah bagian dari sistem baru yang sedang diterapkan.
Apakah Anak Masih Bisa Belajar dari Internet?
Ini menjadi pertanyaan penting bagi banyak orang tua.
Jawabannya, masih bisa. Namun dengan cara yang lebih terkontrol.
Platform seperti YouTube, misalnya, memiliki fitur pengawasan yang memungkinkan orang tua mengatur apa yang ditonton anak, berapa lama, dan kapan digunakan.
Artinya, internet tetap bisa digunakan sebagai sarana belajar, selama ada pendampingan.
Apa Peran Orang Tua Sekarang?
Dengan adanya PP Tunas, peran orang tua menjadi lebih besar.
Jika sebelumnya pengawasan bisa lebih santai, sekarang orang tua perlu lebih aktif:
- Memahami aplikasi yang digunakan anak
- Mengatur waktu penggunaan gadget
- Menjelaskan alasan pembatasan kepada anak
- Mendampingi saat anak mengakses konten
Tanpa peran orang tua, aturan ini tidak akan berjalan maksimal. Anak tetap bisa mencari cara lain jika tidak ada pengawasan.
Tantangan yang Mungkin Terjadi
Perubahan ini tidak selalu mudah.
Anak bisa merasa:
- Kehilangan kebebasan
- Tidak mengerti kenapa akses dibatasi
- Mencoba mencari cara untuk tetap online
Di sisi lain, orang tua juga perlu waktu untuk beradaptasi.
Namun, kondisi ini wajar. Setiap perubahan kebiasaan membutuhkan proses.
Cara Menjelaskan ke Anak
Salah satu kunci utama adalah komunikasi.
Orang tua bisa menjelaskan dengan cara sederhana:
Bahwa internet itu seperti jalan raya. Tidak semua tempat aman untuk anak. Karena itu, perlu ada aturan agar tetap aman.
Pendekatan seperti ini biasanya lebih mudah dipahami dibandingkan larangan tanpa penjelasan.
Langkah Awal yang Bisa Dilakukan
Untuk menghadapi perubahan ini, orang tua bisa mulai dari hal sederhana:
- Cek usia yang digunakan di akun anak
- Lihat aplikasi apa saja yang sering digunakan
- Gunakan fitur pengawasan di perangkat
- Tentukan waktu penggunaan harian
- Ajak anak berdiskusi, bukan hanya melarang
Langkah kecil ini bisa membantu proses adaptasi menjadi lebih mudah.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Batasan
PP Tunas bukan hanya soal membatasi akses anak ke media sosial.
Aturan ini adalah upaya untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, tanpa menghilangkan manfaat teknologi.
Bagi orang tua, ini adalah momen untuk kembali terlibat dalam aktivitas digital anak. Bukan sebagai pengawas semata, tetapi sebagai pendamping.
Dengan pendekatan yang tepat, anak tetap bisa belajar, berkembang, dan tetap aman di tengah perubahan dunia digital yang semakin cepat.
