Media sosial kini tidak lagi sekadar tempat berbagi foto atau video. Di dalam satu akun Instagram, banyak orang menyimpan percakapan pribadi, data pekerjaan, nomor telepon, alamat email, hingga akses ke berbagai aplikasi lain yang terhubung di perangkat mereka. Karena itu, ketika akun berhasil diretas, dampaknya bisa jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan.
Banyak korban baru menyadari akun mereka dibajak setelah muncul aktivitas mencurigakan. Ada yang tiba-tiba logout sendiri, email berubah tanpa izin, hingga akun dipakai menyebarkan pesan penipuan kepada teman dan keluarga. Dalam kasus tertentu, hacker bahkan berhasil mengambil akses ke layanan lain yang tersimpan di perangkat korban.
Ancaman ini semakin meningkat seiring maraknya malware jenis Password Stealer. Malware tersebut dirancang khusus untuk mencuri data login pengguna secara diam-diam tanpa menimbulkan tanda mencolok pada perangkat.
Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan banyak upaya serangan pencurian password. Sepanjang tahun lalu, ratusan ribu serangan berhasil terdeteksi dan dicegah. Fakta lain yang cukup mengejutkan, hampir setengah password pengguna internet disebut dapat dibobol dalam waktu kurang dari satu menit jika masih memakai kombinasi yang lemah atau mudah ditebak.
Di tengah meningkatnya ancaman digital, Instagram menjadi salah satu platform yang paling sering dipakai hacker untuk menjalankan aksinya. Alasannya sederhana. Pengguna terbiasa membuka DM, menerima pesan dari akun asing, dan menekan tautan tanpa berpikir panjang. Kebiasaan inilah yang sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menjebak korban.
Karena itu, pengguna disarankan segera memeriksa kembali pengaturan keamanan akun mereka. Ada tiga fitur di Instagram yang sebaiknya dimatikan sekarang juga untuk membantu memperkecil risiko pembajakan akun.
1. Matikan Fitur Membuka Link di Browser Eksternal
Sebagian besar serangan digital di Instagram bermula dari tautan palsu yang dikirim lewat DM. Pelaku biasanya memakai pesan sederhana yang memancing rasa penasaran pengguna.
Contohnya seperti “Ini benar kamu di video ini?” atau “Coba lihat foto ini sekarang.” Karena terlihat biasa, banyak orang langsung menekan tautan tersebut tanpa curiga.
Masalah muncul ketika Instagram langsung membuka browser utama di ponsel karena fitur browser eksternal masih aktif. Saat itulah pengguna dapat diarahkan ke situs palsu yang menyerupai halaman login resmi atau tanpa sadar mengunduh malware ke perangkat mereka.
Banyak korban tidak sadar sedang memasukkan password ke halaman palsu. Setelah data login diberikan, hacker bisa langsung mengambil alih akun dalam hitungan detik.
Untuk membantu mengurangi risiko tersebut, fitur membuka tautan di browser eksternal sebaiknya segera dimatikan.
Berikut langkahnya:
- Masuk ke Profil Instagram
- Klik garis tiga di kanan atas
- Pilih “Izin situs web”
- Masuk ke “Tautan pesan”
- Matikan opsi “Buka di browser eksternal”
Pengaturan kecil ini dapat membantu memberikan lapisan perlindungan tambahan saat menerima tautan mencurigakan.
2. Batasi Panggilan dari Akun yang Tidak Dikenal
Selain memakai tautan palsu, hacker kini juga sering menggunakan teknik manipulasi psikologis atau social engineering. Salah satu metode yang sedang marak adalah vishing atau voice phishing.
Pelaku biasanya menelepon korban dan berpura-pura menjadi pihak resmi seperti bank, customer service, atau tim keamanan platform media sosial. Mereka mencoba membuat korban panik dengan alasan akun bermasalah atau transaksi mencurigakan.
Dalam kondisi panik, banyak orang akhirnya memberikan kode OTP atau data penting lainnya tanpa sadar bahwa mereka sedang ditipu.
Karena itu, pengguna Instagram disarankan membatasi siapa saja yang dapat melakukan panggilan lewat aplikasi tersebut.
Caranya:
- Buka Pengaturan Instagram
- Masuk ke menu “Notifikasi”
- Pilih “Telepon”
- Atur menjadi “Dari profil yang saya ikuti”
Dengan pengaturan ini, akun asing atau mencurigakan tidak bisa sembarangan menghubungi pengguna lewat panggilan suara.
3. Nonaktifkan Fitur Hubungkan Kontak
Banyak pengguna membiarkan fitur sinkronisasi kontak tetap aktif tanpa menyadari risiko di baliknya. Padahal fitur ini bisa menjadi celah besar jika akun berhasil diretas.
Saat fitur “Hubungkan Kontak” aktif, Instagram menyimpan data nomor telepon dan email dari daftar kontak pengguna. Jika hacker berhasil mengambil alih akun, mereka bisa memakai data tersebut untuk menyebarkan penipuan lebih luas dengan menyamar sebagai pemilik akun asli.
Inilah alasan mengapa banyak kasus penipuan digital berasal dari akun teman sendiri. Karena pesan datang dari orang yang dikenal, korban berikutnya cenderung lebih mudah percaya.
Untuk mematikan fitur ini, pengguna bisa mengikuti langkah berikut:
- Buka Pengaturan
- Masuk ke “Pusat Akun”
- Pilih “Informasi dan izin Anda”
- Masuk ke “Unggah kontak”
- Matikan “Hubungkan kontak”
Jangan Hanya Andalkan Password Biasa
Mengubah pengaturan keamanan saja tidak cukup jika pengguna masih memakai password yang mudah ditebak. Hindari memakai kombinasi sederhana seperti tanggal lahir, nama sendiri, atau angka berurutan.
Pengguna juga disarankan memakai password berbeda untuk setiap akun agar jika satu akun bocor, akun lain tetap aman.
Selain itu, fitur Two-Factor Authentication atau 2FA wajib diaktifkan. Fitur ini memberikan perlindungan tambahan berupa kode verifikasi yang dikirim ke perangkat pengguna setiap kali ada login baru.
Di era digital saat ini, ancaman siber bisa datang kapan saja dan sering kali memanfaatkan kelengahan kecil pengguna. Karena itu, menjaga keamanan akun media sosial tidak boleh dianggap sepele.
Meluangkan beberapa menit untuk memeriksa pengaturan keamanan Instagram hari ini bisa menjadi langkah sederhana yang membantu mencegah kerugian besar di kemudian hari, mulai dari kehilangan akun hingga pencurian data pribadi dan penyalahgunaan identitas digital.
