Penjarahan rumah terjadi pada 30 Agustus 2025 di Duren Sawit
JAKARTA — Uya Kuya mengungkap bahwa rumahnya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur pernah mengalami penjarahan massa pada 30 Agustus 2025. Ia menyebut peristiwa itu meninggalkan kerusakan yang tidak ringan.
Kini, setelah beberapa waktu berjalan, Uya mengatakan rumahnya masih belum sepenuhnya selesai direnovasi. Ia juga menyebut pekerjaan perbaikan berlangsung cukup lama karena dampaknya begitu luas.
Ia berharap publik memahami bahwa kondisi rumah tidak langsung pulih seperti semula hanya karena waktu sudah lewat.
Kerusakan disebut meliputi kusen, pipa, wastafel, hingga closet
Uya menerangkan kerusakan yang ia alami cukup parah. Ia menyebut beberapa elemen rumah bahkan dijarah, mulai dari kusen hingga perlengkapan yang ada di area sanitasi seperti pipa, wastafel, serta closet.
Dengan daftar itu, terlihat bahwa kerusakan bukan sekadar “barang hilang” tapi menyangkut bagian yang memang harus diganti dan dipasang ulang. Hal semacam ini biasanya memerlukan proses teknis yang lebih rumit.
Uya pun menyampaikan bahwa karena kerusakan parah, renovasi tidak bisa dikerjakan terburu-buru.
“Belum selesai, renovasinya masih jalan” sampai enam bulan
Dalam keterangannya, Uya menyebut renovasi sudah berjalan sekitar enam bulan namun belum juga tuntas. Ia mengaku hingga saat ini belum terjadi penyelesaian menyeluruh.
Pernyataan ini sekaligus menjawab pertanyaan publik yang mungkin mengira proses perbaikan sudah selesai. Menurut Uya, durasi renovasi diperpanjang karena tingkat kerusakannya.
Ia tidak menyangkal adanya tantangan, dan justru menuturkan realitas yang sedang terjadi.
Keluarga sempat pindah: mertua dan adik-adik di kontrakan
Karena rumah belum layak, Uya memilih menempatkan keluarganya di tempat lain. Ia mengungkap bahwa mertua dan adik-adik sang istri diungsikan ke rumah kontrakan sementara waktu.
Sedangkan Uya dan sang istri menetap di tempat lain selama proses perbaikan berlangsung. Pilihan tersebut dilakukan supaya keluarga tetap bisa menjalani aktivitas tanpa harus bergantung pada kondisi rumah yang belum selesai.
Dengan demikian, penjarahan berdampak juga pada pengaturan hidup sehari-hari.
Uya menegaskan: setelah renovasi selesai, saya tidak akan menjual rumah
Dalam bagian yang paling menonjol, Uya menegaskan kepastian rencananya. Ia memastikan bahwa setelah renovasi selesai, ia tidak akan menjual rumah tersebut.
Ia mengungkap alasannya dengan lugas. Menurutnya, rumah itu terlalu berharga secara emosional dan memiliki nilai sejarah yang besar.
Uya tidak ingin rumah yang sudah ia bangun bertahun-tahun malah berakhir sebagai barang yang dijual setelah terjadi peristiwa buruk.
“Butuh puluhan tahun” sampai rumah berdiri di atas kerja keras
Uya menyampaikan bahwa butuh waktu puluhan tahun sampai akhirnya ia bisa membangun rumah itu. Artinya, rumah tersebut bukan proyek dadakan.
Ada proses yang ia jalani, ada langkah finansial yang ia tempuh, serta ada pengorbanan yang ikut terkumpul dalam perjalanan membangun rumah tersebut.
Uya seperti ingin menegaskan bahwa rumah itu adalah buah kerja keras, sehingga wajar jika ia mempertimbangkan nilai yang melekat padanya.
Uya menolak anggapan bahwa rumahnya dibangun dengan uang rakyat
Dalam klarifikasinya, Uya menyampaikan bahwa rumah itu dibangun menggunakan uangnya sendiri. Ia menegaskan bahwa tidak ada uang rakyat yang ia pakai untuk pembangunan rumah tersebut.
Pernyataan ini terdengar seperti respons terhadap berbagai kemungkinan asumsi publik yang kadang muncul ketika ada peristiwa besar. Uya ingin menempatkan fakta sesuai versinya.
Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ia ingin menjaga narasi yang lebih adil terhadap dirinya dan proses hidup yang ia jalani.
Renovasi lama bukan berarti tidak ada progres, tapi karena kerusakan kompleks
Uya menyebut kondisi kerusakan yang ia hadapi cukup kompleks. Elemen-elemen yang dijarah bukan hanya estetika, tapi menyangkut komponen penting rumah.
Karena itu, ia menjelaskan bahwa pengerjaan perbaikan butuh proses yang panjang dan bertahap. Jika dipaksa selesai cepat, ada kemungkinan kualitas renovasi tidak maksimal.
Dengan gaya bicaranya, Uya lebih menekankan pada alasan teknis dan realitas lapangan.
Dampak sosial penjarahan tetap terasa sampai tahap renovasi
Uya juga memperlihatkan bagaimana penjarahan bukan hanya kejadian sekali lalu hilang, melainkan meninggalkan efek sosial dan emosional. Ia menampakkan bahwa keluarga harus mengatur ulang kehidupan untuk sementara.
Ketika rumah rusak, rutinitas tidak bisa berjalan normal. Bahkan setelah sekian lama, proses renovasi masih harus dilanjutkan.
Dari sini, publik bisa melihat bahwa pemulihan pascakejadian seperti ini memang membutuhkan waktu.
Uya ingin fokusnya ada pada pemulihan, bukan spekulasi
Dengan menolak menjual rumah, Uya seperti mengalihkan fokus pembicaraan menuju proses perbaikan. Ia tidak ingin ceritanya berubah menjadi spekulasi tanpa akhir.
Ia ingin publik mengetahui bahwa ia sedang menjalankan renovasi, dan ia punya komitmen untuk menyelesaikannya.
Sementara itu, keputusan soal penjualan rumah ditutup rapat dengan jawaban tegas.
Penutup: rumah tetap dipertahankan karena punya cerita panjang
Kesimpulannya, Uya Kuya memastikan tidak akan menjual rumah yang sempat dijarah massa. Rumah tersebut masih dalam tahap renovasi setelah mengalami kerusakan parah, dan proses perbaikan sudah berlangsung selama sekitar enam bulan.
Uya memandang rumah itu memiliki sejarah besar, dibangun dalam waktu panjang menggunakan uangnya sendiri. Karena alasan inilah ia memilih bertahan dan mengupayakan pemulihan hingga tuntas.
