banner 728x90

Ketika “Roh” Ghibli Dipinjam AI: Akankah Miyazaki Murka dari Balik Layar?

Studio Ghibli Inpired Character
banner 468x60

Coba bayangkan lagi: Anda melihat unggahan demi unggahan di media sosial, dipenuhi foto-foto yang bermetamorfosis menjadi lanskap magis, karakter-karakter lugu, dan palet warna memukau ala Studio Ghibli. Kecerdasan buatan (AI) sekali lagi menunjukkan “keajaibannya,” mengubah realitas menjadi fantasi ala Miyazaki. Namun, di tengah kekaguman yang meluas, sebuah pertanyaan menggelayuti benak: apakah “peminjaman” gaya visual Ghibli oleh AI ini adalah bentuk penghormatan yang tulus, atau justru sebuah tindakan yang akan membuat sang maestro animasi legendaris, Hayao Miyazaki, berang dari balik layar?

Studio Ghibli, di bawah kepemimpinan Miyazaki, telah menciptakan sebuah alam semesta animasi yang tak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan makna dan emosi. Gaya mereka adalah tanda pengenal yang unik, hasil dari perpaduan antara imajinasi liar, teknik animasi yang cermat, dan filosofi hidup yang mendalam. Setiap film Ghibli adalah sebuah karya seni yang utuh, di mana visual dan narasi terjalin erat untuk menyampaikan pesan yang abadi.

banner 325x300

Kini, dengan kemudahan yang ditawarkan AI untuk mereplikasi gaya ini, muncul sebuah paradoks. Di satu sisi, teknologi memungkinkan lebih banyak orang untuk berinteraksi dengan estetika Ghibli. Di sisi lain, hal ini memicu kekhawatiran tentang devaluasi karya seni dan potensi pelanggaran hak cipta.

Mari kita kembali pada sosok Hayao Miyazaki. Pandangannya terhadap AI dalam konteks seni sangat jelas dan tegas. Ia melihat AI sebagai alat yang mungkin berguna untuk tugas-tugas mekanis, tetapi sama sekali tidak mampu menangkap esensi kreativitas dan emosi manusia yang menjadi jantung dari sebuah karya seni yang bermakna.

Kekecewaan mendalam Miyazaki terhadap AI terungkap jelas dalam insiden tahun 2016. Ia tidak hanya tidak terkesan dengan demonstrasi animasi AI yang dilihatnya, tetapi juga menyampaikan kritik pedas yang menunjukkan betapa ia menghargai nilai kehidupan dan keunikan ekspresi manusia dalam seni. Baginya, meniru tanpa memahami adalah sebuah tindakan yang hampa.

Maka, ketika kita melihat tren foto “Ghibli AI” ini, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Miyazaki akan melihatnya bukan sebagai bentuk pujian, melainkan sebagai sebuah upaya untuk mereduksi kekayaan dan kedalaman karya Ghibli menjadi sekadar filter visual yang bisa ditiru oleh algoritma.

Implikasi hukum dari fenomena ini juga tidak bisa diabaikan. Para ahli hukum berpendapat bahwa Studio Ghibli memiliki dasar yang kuat untuk mengajukan tuntutan terhadap perusahaan AI yang memanfaatkan gaya seni mereka secara komersial tanpa izin. Argumentasi tentang pelanggaran hak cipta, persaingan tidak sehat, dan potensi kebingungan di kalangan konsumen bisa menjadi landasan gugatan.

Di tengah gelombang popularitas “Ghibli AI,” kita perlu merenungkan: siapakah sebenarnya pemilik “roh” yang terpancar dari gambar-gambar tersebut? Apakah keajaiban visual ini benar-benar milik pengguna yang memberikan perintah pada AI, ataukah ia tetap merupakan warisan tak ternilai dari visi kreatif Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli? Akankah mimpi indah yang diciptakan oleh sentuhan digital ini justru membangunkan “naga” kemarahan dari balik layar studio animasi legendaris tersebut? Waktu dan tindakan hukum di masa depan akan memberikan jawabannya.

Exit mobile version