Sarwendah jelaskan lima hal, kuasa hukum rangkum keberatan Ruben
Sarwendah Tan akhirnya menjelaskan sejumlah isu yang sempat menjadi keberatan Ruben Onsu dalam konflik mereka. Kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, menyampaikan klarifikasi untuk lima hal yang disebut muncul dalam pemberitaan maupun pembicaraan publik.
Chris menyebut bahwa beberapa isu yang beredar dinilai tidak sesuai fakta. Ia menegaskan bahwa klarifikasi perlu dilakukan agar publik tidak terjebak interpretasi sepihak.
Dengan penjelasan poin demi poin, pihak Sarwendah berupaya agar diskusi kembali ke dasar: kronologi dan konteks.
Isu anak: komunikasi disebut tidak pernah ditolak, tapi hampir jarang
Chris memulai klarifikasi dengan isu sulit bertemu anak. Ia menepis anggapan bahwa Sarwendah menutup akses Ruben.
Menurut Chris, komunikasi terakhir mengenai anak terjadi pada akhir tahun 2025. Setelah itu, Ruben disebut nyaris tidak menghubungi Sarwendah untuk merencanakan pertemuan.
Chris juga menyatakan komunikasi terakhir Ruben dengan anak-anaknya terjadi pada April 2026. Dari sini, pihak Sarwendah menyimpulkan bahwa tuduhan mempersulit tidak dapat dibenarkan.
“Kalau mempersulit, seharusnya ada permintaan yang ditolak. Faktanya tidak pernah ada permintaan pertemuan dari Ruben yang ditolak,” kata Chris.
Dengan bantahan tersebut, publik diminta memahami bahwa pertemuan tidak bisa dianggap “diblokir” jika tidak ada permintaan yang jelas.
Anak tampil dalam live: bukan untuk menaikkan rating
Chris juga mengklarifikasi tudingan eksploitasi anak. Tuduhan ini muncul karena Sarwendah live bersama Giorgio Antonio dan anak-anak berada di situ saat live berlangsung.
Chris menegaskan bahwa Thalia dan Thania tidak diletakkan sebagai bagian dari strategi konten. Keberadaan anak-anak saat live disebut bukan skenario yang tujuannya menaikkan rating.
“Jangan dipelintir seakan-akan anak itu dijadikan senjata menaikkan rating. Tidak!” tegas Chris.
Chris menambahkan bahwa anak-anak disebut “melebihi manajernya” bahkan melebihi siapa pun dalam cara pandang Sarwendah. Artinya, anak-anak bukan alat bisnis yang bisa dipakai kapan saja sesuai kebutuhan konten.
Rumor uang: kerugian Rp20 miliar disebut hoaks
Bagian klarifikasi berikutnya adalah rumor kerugian finansial sebesar Rp20 miliar. Chris membantah klaim tersebut dan menyebutnya hoaks.
Chris menyatakan memang ada kerugian bila seseorang vakum berjualan online. Aktivitas jualan yang biasanya dilakukan setiap hari kemudian tidak berjalan.
Tetapi, pihak Sarwendah memastikan kerugian yang dialami tidak sebesar yang diberitakan. Chris menyampaikan dengan analogi sederhana agar mudah dipahami: berhenti jualan berarti potensi pendapatan berkurang, namun tidak otomatis bisa dikonversi ke angka yang fantastis.
“Pastilah ada kerugian. Tapi tidak sebesar yang diberitakan,” pungkas Chris.
Penutup: klarifikasi untuk menahan rumor agar tidak membesar
Secara keseluruhan, klarifikasi ini menampilkan cara Sarwendah menjawab kritik dari pihak lain. Ia tidak hanya membantah, tapi juga memberi dasar berupa kronologi komunikasi dan penilaian terhadap angka rumor.
Pihak Sarwendah berharap publik tidak terus mengulang narasi yang belum terbukti. Karena dalam kasus keluarga, rumor bisa memunculkan efek domino di mana orang menilai tanpa tahu detailnya.
Dengan langkah ini, Sarwendah memilih merapikan informasi agar konflik tidak makin liar di ranah opini publik.



















