Hujatan netizen tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola
Ahmad Dhani menyadari, sebagai putri dari tokoh yang cukup dikenal publik, Shafeea Ahmad akan berhadapan dengan berbagai respons dari masyarakat. Termasuk komentar negatif di media sosial.
Dhani tidak menilai itu sebagai hal yang mengejutkan. Menurutnya, sorotan untuk figur publik seperti Shafeea memang datang dari banyak sisi.
Namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana Shafeea merespons komentar-komentar yang tidak mengenakkan. Di sinilah Dhani memilih peran sebagai orang tua yang terus memberi pegangan.
Dhani mengingatkan: ada netizen yang beradab dan ada yang tidak
Saat ditanya soal cara membentengi mental Shafeea, Dhani menegaskan bahwa ia selalu memberikan pengertian. Ia menekankan satu poin: netizen itu macam-macam.
Dhani menyebut ada pengguna media sosial yang memiliki adab, tetapi ada juga yang tidak beradab ketika berkomentar. Perbedaan itu harus dipahami agar Shafeea tidak menganggap semua komentar sebagai serangan personal.
Pesan seperti ini biasanya penting untuk membangun “kerangka berpikir”. Dengan kerangka itu, Shafeea bisa menilai komentar dari siapa dan bagaimana cara orang tersebut berperilaku.
Menurut Dhani, hujatan sering lahir dari etika yang berbeda
Dhani juga mengaitkan perilaku netizen dengan latar belakang pendidikan. Ia memandang, seseorang yang berkomentar dengan cara kasar atau menjatuhkan biasanya menunjukkan etika dan kebiasaan berpikir yang berbeda.
Ia tidak bermaksud menyalahkan semata-mata, tetapi ingin Shafeea menangkap pola: tidak semua orang menulis dengan cara yang baik.
Kalau pola itu sudah terlihat, maka Shafeea punya alasan untuk tidak terlalu menyerap ucapan mereka. Dengan begitu, mental tidak mudah runtuh hanya karena satu gelombang hujatan.
Pendekatan Dhani: memberi pemahaman, bukan menambah masalah
Alih-alih membalas atau mencari siapa yang salah, Dhani memilih membangun pemahaman ke Shafeea. Ia ingin Shafeea tahu bahwa dunia maya tidak selalu dipenuhi percakapan yang sehat.
Sering kali, hujatan dipicu oleh rasa iri, ingin tampil paling benar, atau sekadar ikut arus. Di situ, komentar tidak lagi berfungsi sebagai diskusi—melainkan sekadar serangan.
Dhani berusaha meminimalkan efek domino itu ke mental Shafeea. Ia ingin putrinya tetap bisa bergerak maju tanpa membawa beban dari opini negatif.
Shafeea diajak menempatkan hujatan sebagai “noise”, bukan validasi
Dalam banyak kasus, seseorang yang jadi sasaran hujatan akan merasa perlu membuktikan diri. Namun Dhani ingin Shafeea tidak terjebak pada kebutuhan untuk membela diri setiap saat.
Baginya, komentar yang tidak beradab seharusnya dipandang sebagai gangguan, bukan validasi atau penilaian yang harus dituruti. Dengan cara pandang seperti ini, Shafeea bisa lebih tenang.
Hal yang sering terjadi adalah orang terlalu fokus pada komentar negatif. Dhani mendorong Shafeea agar fokus pada hal-hal yang lebih berarti dalam hidupnya.
Dhani percaya, mental yang kuat lahir dari pembiasaan
Kuat secara mental tidak muncul dalam satu hari. Dhani terlihat menanamkan pesan tersebut berulang agar Shafeea terbiasa menghadapi situasi seperti itu.
Shafeea perlu waktu untuk memproses, dan Dhani membantu dengan penjelasan yang sederhana tapi tegas. Ia mengajarkan cara melihat dunia maya dengan lebih realistis.
Seiring waktu, pembiasaan ini bisa membuat Shafeea lebih kebal terhadap komentar yang isinya hanya menjatuhkan.
Sosok publik memang rentan, tapi reaksi bisa diatur
Publik sering mengira bahwa semua respons harus sama: jika dipuji, bersyukur; jika dihujat, marah. Padahal, Dhani menunjukkan opsi lain: menerima kenyataan, lalu mengatur reaksi.
Shafeea tetap bisa membaca dunia luar, tetapi tidak harus membiarkan dunia luar mengendalikan emosi. Itulah inti pembekalan Dhani.
Baginya, menjaga jarak dari opini negatif adalah bagian dari kedewasaan dalam menghadapi sorotan.
Penutup: pesan Dhani adalah perlindungan dari dalam diri
Pada akhirnya, pesan Dhani kepada Shafeea berpusat pada satu hal: netizen beragam, tidak semuanya beradab, dan etika tiap orang berbeda.
Dhani juga menilai perilaku warganet sering mencerminkan pendidikan dan etika mereka. Dengan memahami itu, Shafeea diharapkan tetap berdiri tegak walau menerima hujatan.
Pendekatan Dhani terdengar seperti upaya menjaga Shafeea dari serangan yang paling berbahaya: yang masuk ke pikiran dan menekan perasaan.



















