Scroll Sedikit, Tahu-Tahu Sudah Berjam-Jam
Banyak orang kini terbiasa membuka media sosial hampir setiap ada waktu kosong. Saat bangun tidur, menunggu makanan datang, duduk santai, bahkan beberapa menit sebelum tidur.
Awalnya hanya ingin melihat kabar terbaru atau hiburan ringan. Namun tanpa sadar, jari terus menggulir layar dari satu konten ke konten lain tanpa henti.
Video berganti cepat. Timeline dipenuhi berita buruk, konflik, komentar panas, hingga informasi yang memancing rasa cemas. Aktivitas inilah yang dikenal sebagai doomscrolling.
Fenomena tersebut semakin umum terjadi di era media sosial modern. Sayangnya, berbagai penelitian mulai menunjukkan bahwa kebiasaan ini tidak sesederhana “main HP terlalu lama”.
Para ahli kini menemukan hubungan antara doomscrolling dengan meningkatnya stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunnya rasa bahagia dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Salah satu alasan utama doomscrolling sulit dihentikan adalah cara kerja otak manusia sendiri.
Secara alami, manusia lebih mudah tertarik pada hal negatif dibanding informasi positif. Dalam psikologi, kondisi ini disebut negativity bias.
Otak menganggap informasi tentang ancaman, konflik, atau bahaya sebagai sesuatu yang penting untuk dipantau. Karena itu, berita buruk terasa lebih menarik perhatian dibanding kabar biasa.
Media sosial kemudian memperkuat kondisi tersebut melalui algoritma.
Saat seseorang sering membuka berita negatif atau konten emosional, platform digital akan terus merekomendasikan materi serupa agar pengguna bertahan lebih lama di aplikasi.
Tanpa sadar, pengguna akhirnya masuk ke dalam siklus scrolling panjang yang sulit diputus.
Penelitian Menunjukkan Dampaknya terhadap Kebahagiaan
Laporan terbaru dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford menemukan adanya kaitan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan penurunan wellbeing atau kesejahteraan hidup.
Peneliti Michael Plant menjelaskan media sosial sebenarnya masih bisa memberi manfaat ketika digunakan secara wajar. Penggunaan dalam durasi tertentu membantu seseorang tetap terhubung dengan teman, keluarga, dan lingkungan sosial.
Namun hasil penelitian menunjukkan semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar pula penurunan kesejahteraan mental yang dirasakan.
Penurunan tersebut paling terlihat pada kelompok usia muda di bawah 25 tahun di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.
Dalam satu dekade terakhir, tingkat kebahagiaan kelompok usia muda di negara-negara tersebut mengalami penurunan bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Para ahli melihat kondisi ini semakin kuat sejak budaya scrolling tanpa tujuan menjadi kebiasaan rutin banyak pengguna internet.
Pikiran Bisa Cepat Lelah Tanpa Disadari
Doomscrolling membuat otak terus menerima rangsangan emosional dalam waktu panjang. Ketika seseorang terus melihat berita konflik, krisis, atau komentar negatif, tubuh akan berada dalam kondisi siaga lebih lama.
Akibatnya, banyak orang mulai merasa cepat lelah secara mental.
Berbagai penelitian menemukan doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, rasa takut berlebihan, hingga suasana hati yang lebih buruk.
Tidak sedikit pula yang mulai merasa dunia dipenuhi masalah tanpa akhir karena terlalu sering terpapar konten negatif setiap hari.
Efek lainnya adalah munculnya tekanan sosial akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Saat seseorang terus melihat pencapaian, gaya hidup, atau kebahagiaan orang lain, rasa tidak puas terhadap hidup sendiri bisa ikut meningkat.
Kondisi tersebut perlahan memengaruhi motivasi, fokus, hingga kesehatan emosional pengguna.
Gangguan Tidur Jadi Dampak yang Paling Sering Terjadi
Salah satu efek doomscrolling yang paling umum adalah kualitas tidur yang memburuk.
Banyak orang memiliki kebiasaan scrolling sebelum tidur sambil berkata “sebentar saja”. Namun konten yang terus muncul membuat waktu penggunaan menjadi jauh lebih panjang dari yang direncanakan.
Paparan cahaya layar pada malam hari membuat otak tetap aktif dan sulit rileks. Akibatnya, seseorang jadi lebih susah tidur nyenyak meski tubuh sebenarnya sudah lelah.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, suasana hati, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Beberapa ahli kesehatan juga mengaitkan doomscrolling dengan sakit kepala, nyeri leher, kelelahan mata, dan meningkatnya hormon stres dalam tubuh.
Tidak Semua Screen Time Itu Buruk
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa penggunaan teknologi tidak selalu berdampak negatif.
Aktivitas seperti belajar kemampuan baru, membaca materi edukasi, bermain game bersama teman, atau melakukan video call dengan keluarga masih dapat memberi manfaat sosial dan emosional.
Yang menjadi masalah adalah penggunaan media sosial secara kompulsif tanpa tujuan jelas.
Profesor psikologi dari University of Reading, Netta Weinstein, menjelaskan penggunaan teknologi yang sehat terjadi ketika seseorang tetap merasa memiliki kontrol terhadap aktivitas digitalnya.
Sebaliknya, penggunaan menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa sulit berhenti atau memakai media sosial untuk menghindari masalah kehidupan nyata.
Mulai Perlu Mengenal Batas Digital
Di tengah kehidupan modern yang semakin dekat dengan layar, kemampuan mengatur konsumsi informasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana seperti membatasi waktu media sosial, mengurangi scrolling sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, hingga memperbanyak interaksi langsung di dunia nyata.
Mengganti waktu scrolling dengan membaca, olahraga ringan, belajar keterampilan baru, atau melakukan aktivitas kreatif juga dinilai membantu mengurangi kelelahan mental akibat paparan informasi berlebihan.
Karena pada akhirnya, tidak semua hal di internet perlu dikonsumsi tanpa henti. Terlalu lama tenggelam dalam arus konten negatif justru bisa membuat pikiran semakin lelah tanpa disadari.
