banner 728x250

Mengenal Tyto Alba, Burung Hantu Pemburu Malam yang Viral Usai Ditembak dan Perannya Sering Terabaikan

Illustrasi Burung Hantu Tyto Alba
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta. Nama Tyto alba mendadak ramai diperbincangkan setelah seekor burung hantu jenis ini ditembak mati oleh seorang warga di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa tersebut viral karena terekam video dan menyebar luas di media sosial. Reaksi publik pun bermunculan, mulai dari keprihatinan hingga dorongan agar masyarakat lebih memahami satwa liar yang hidup di sekitar mereka.

Insiden itu terjadi di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat. Burung hantu ditembak menggunakan senapan angin pada malam hari. Terduga pelaku mengaku merasa terganggu oleh keberadaan burung hantu di sekitar rumah. Rekaman penembakan tersebut diunggah ke media sosial dan memicu perhatian luas. Aparat kepolisian kemudian melakukan klarifikasi dan pendalaman di lapangan.

banner 325x300

Kepolisian menyatakan bahwa terduga pelaku kini diproses secara hukum atas dugaan penganiayaan terhadap hewan yang mengakibatkan kematian. Proses penanganan perkara dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku dan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Di luar proses hukum, kasus ini membuka diskusi yang lebih luas tentang keberadaan Tyto alba dan relasinya dengan manusia.

Tyto alba sebenarnya bukan satwa asing di Indonesia. Burung hantu ini dikenal dengan berbagai sebutan lokal, seperti serak jawa, burung hantu lumbung, atau burung hantu gudang. Ciri fisiknya cukup mudah dikenali. Kepalanya besar dan bulat tanpa jumbai telinga. Wajahnya berbentuk menyerupai hati dengan warna putih pucat. Bentuk wajah ini bukan sekadar ciri visual, tetapi berperan penting dalam menunjang kemampuan pendengarannya.

Bagian punggung dan kepala Tyto alba berwarna cokelat muda dengan bintik hitam dan putih yang bervariasi. Sementara itu, bagian bawah tubuhnya berwarna putih keabu-abuan. Secara ukuran, betina cenderung lebih besar dibanding jantan. Berat betina dapat mencapai sekitar 570 gram, sedangkan jantan sekitar 470 gram. Panjang tubuhnya berkisar antara 32 hingga 40 sentimeter, dengan rentang sayap yang dapat mencapai lebih dari satu meter.

Burung hantu ini memiliki persebaran yang sangat luas di berbagai belahan dunia. Para ahli mengenali puluhan subspesies Tyto alba berdasarkan perbedaan ukuran tubuh dan warna bulu. Di Indonesia, Tyto alba banyak ditemukan di wilayah pedesaan, lahan pertanian, hingga area yang berdekatan dengan permukiman manusia. Pada siang hari, burung ini beristirahat di tempat-tempat tersembunyi seperti rongga pohon, bangunan tua, lumbung, hingga struktur buatan manusia lainnya.

Aktivitas utama Tyto alba dimulai pada malam hari. Sebagai predator nokturnal, burung hantu ini dikenal sebagai pemburu yang sangat efisien. Mangsa utamanya adalah mamalia kecil, terutama tikus. Selain itu, Tyto alba juga dapat memangsa burung kecil dan hewan pengerat lainnya. Aktivitas berburu biasanya dimulai sesaat setelah matahari terbenam.

Dalam kondisi cahaya redup, Tyto alba mengandalkan penglihatan malam yang sensitif. Namun, dalam kegelapan total, indra pendengaran menjadi senjata utama. Struktur wajah berbentuk hati berfungsi memfokuskan gelombang suara ke telinga, sehingga pergerakan mangsa yang sangat kecil pun dapat terdeteksi. Kemampuan ini menjadikan Tyto alba dikenal sebagai salah satu burung dengan akurasi pendengaran terbaik dalam berburu.

Keunggulan lain Tyto alba terletak pada bulu-bulunya yang sangat halus. Bulu tersebut mampu meredam suara kepakan sayap saat terbang. Dengan demikian, burung hantu ini dapat mendekati mangsanya hampir tanpa suara. Saat menyerang, Tyto alba terbang rendah di atas permukaan tanah, biasanya pada ketinggian sekitar satu hingga empat meter. Mangsa ditangkap menggunakan kaki yang kuat, lalu dilumpuhkan dengan gigitan cepat sebelum akhirnya ditelan secara utuh.

Peran Tyto alba dalam ekosistem menjadi sorotan setelah kasus penembakan ini viral. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menjelaskan bahwa seekor Tyto alba dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam. Kemampuan tersebut menjadikan burung hantu ini predator alami yang efektif dalam membantu mengendalikan populasi hama, khususnya di kawasan pertanian terbuka.

Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa keberadaan Tyto alba tetap memerlukan pengelolaan yang cermat. Jika populasi burung hantu meningkat tanpa diimbangi ketersediaan mangsa utama, mereka dapat beralih memangsa spesies lain seperti burung kecil, kelelawar, atau ternak berukuran kecil. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.

Viralnya penembakan Tyto alba di NTT menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar masih kerap terjadi. Kurangnya pemahaman tentang peran ekologis satwa sering menjadi pemicu utama. Burung hantu kerap dianggap mengganggu atau menimbulkan rasa takut, padahal kehadirannya justru memberi manfaat nyata bagi lingkungan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa edukasi dan literasi lingkungan masih sangat dibutuhkan. Tyto alba bukan sekadar burung hantu yang muncul dalam video viral, melainkan bagian penting dari sistem alam yang bekerja senyap pada malam hari, menjaga keseimbangan ekosistem tanpa banyak disadari manusia.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

gacorway
GACORWAY
gacorway
SITUS SLOT
SITUS SLOT GACORWAY
SITUS GACOR
MPO500 Daftar
gacorway
MPO500
ug300 UG300 royalmpo Royalmpohttps://avantguard.co.id/idn/about/ Royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo https://malangtoday.id/ https://guyonanbola.com/ renunganhariankatolik.web.id SLOT DANA ri188 MPO SLOT royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo jktwin kingslot slotking jkt88 royalmpo royalmpo mpo slot jkt88 dewaslot168 gacor4d https://holodeck.co.id/spesifikasi/ royalmpo/ pisang88/ langkahcurang/ mpohoki/ mpocuan/ royalmpo/ mporoyal/ mporoyal/ rajaslot138/ http://www.visoko-rtv.ba/kontakt/
bahisliongalabet