Latar Belakang Rizky Kabah
Rizky Kabah Nizar, yang lebih dikenal dengan nama Rizky Kabah atau Iky Kabah, adalah seorang kreator konten asal Pontianak, Kalimantan Barat. Dengan akun TikTok @riezky.kabah, ia berhasil meraih popularitas yang signifikan dengan pengikut mencapai 2,6 juta orang. Sebagian besar kontennya berfokus pada aktivitas sehari-hari dan kesehariannya, namun, ia juga dikenal karena konten-konten kontroversial yang sering kali memicu perdebatan.
Di balik ketenaran tersebut, Rizky juga mencatatkan jejak yang tidak bersih. Kontroversi demi kontroversi menghampirinya, dan akhirnya membuatnya berurusan dengan hukum. Pada awal Oktober 2025, Rizky dilaporkan ke Polda Kalbar karena dianggap menghina masyarakat Suku Dayak, sebuah tindakan yang dinilai sangat sensitif dan menyinggung martabat banyak orang.
Rizky, yang baru berusia 22 tahun, tampaknya tidak menunjukkan penyesalan atas tindakannya. Bahkan, ia berulang kali menegaskan bahwa ia tidak bersalah dan enggan meminta maaf. Karenanya, banyak masyarakat yang merasa geram dan menuntut keadilan, mendorong mereka untuk melaporkan Rizky ke pihak berwajib.
Kontroversi yang Memicu Laporan
Kontroversi terbaru Rizky bermula ketika ia mengunggah video yang dianggap menghina masyarakat Dayak. Dalam video tersebut, ia menyebutkan bahwa suku Dayak menganut ilmu hitam. Pernyataan ini langsung memicu kemarahan banyak orang, terutama dari masyarakat Dayak yang merasa terdiskriminasi dan direndahkan.
Rizky tidak hanya menyampaikan pernyataan tersebut, tetapi juga melakukan rekaman di depan Rumah Radakng, rumah adat yang merupakan simbol kebanggaan masyarakat Dayak. Dalam video, Rizky berbicara tentang “dukun sakti” dan mengaitkan suku Dayak dengan praktik ilmu hitam. Ucapan tersebut segera viral dan mendapat banyak reaksi negatif dari masyarakat.
Seorang perwakilan masyarakat Dayak menyatakan, “Apa yang diucapkan Rizky jelas sangat menyakitkan. Kami memiliki budaya dan tradisi yang harus dihormati. Tidak seharusnya ada orang yang dengan mudahnya merendahkan kami seperti itu.” Komentar ini mencerminkan rasa frustrasi yang melanda banyak orang atas tindakan Rizky.
Respon Rizky dan Video Klarifikasi
Alih-alih meminta maaf, Rizky justru membuat video klarifikasi yang diunggah di TikTok. Dalam video tersebut, ia menekankan bahwa pernyataannya tidak bermaksud menghina suku Dayak. Ia beralasan bahwa konten yang dibuatnya berdasarkan informasi yang ia anggap valid. “Saya tidak menyebarkan hoaks, saya hanya berbicara berdasarkan fakta yang saya dapatkan dari berbagai sumber,” ujarnya.
Video klarifikasi ini ditonton lebih dari 1,2 juta orang, namun tidak banyak yang merasa puas dengan penjelasannya. Banyak yang beranggapan bahwa Rizky masih belum menyadari dampak dari pernyataannya. “Jika Anda tidak menghina, kenapa harus membuat konten yang provokatif seperti itu?” tanya seorang netizen.
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Rizky. Sebelumnya, ia juga pernah dilaporkan karena pernyataan yang dianggap menghina profesi guru. Konten-kontennya yang sering kali kontroversial membuat banyak orang bertanya-tanya tentang sikap dan tanggung jawabnya sebagai seorang publik figur.
Penangkapan dan Proses Hukum
Setelah dua kali mangkir dari panggilan Polda Kalbar, Rizky akhirnya ditangkap pada 1 Oktober 2025. Penangkapan dilakukan oleh Tim Subdit Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar. Lokasi penangkapannya adalah sebuah rumah kost di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Menariknya, sebelum ditangkap, Rizky masih aktif mengunggah konten di media sosialnya.
Saat penangkapan, Rizky terlihat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Dia bahkan sempat membuat story di Instagram yang menggambarkan dirinya tetap percaya diri meski dalam proses hukum. “Hot news will begin darling,” tulisnya dalam story tersebut. Ini menunjukkan sikap tengil yang menjadi ciri khasnya, bahkan dalam situasi yang serius.
Setelah ditangkap, Rizky ditetapkan sebagai tersangka pada 2 Oktober 2025. Penyidik menemukan bukti yang cukup untuk menjeratnya dengan Pasal 45A Ayat (2) Jo. Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Dampak Penangkapan terhadap Media Sosial
Penangkapan Rizky Kabah memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak netizen yang menyambut baik tindakan tegas dari aparat hukum, sementara yang lain menganggap tindakan tersebut sebagai pembatasan terhadap kebebasan berekspresi. “Dia memang salah, tapi apakah penangkapan adalah solusi terbaik? Kita perlu diskusi yang lebih terbuka,” ungkap seorang pengguna media sosial.
Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya etika dalam berkarya di era digital. Sebagai seorang kreator konten, Rizky seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap apa yang ia unggah. “Setiap kata dan tindakan bisa berakibat fatal, terutama jika menyangkut budaya dan identitas suatu suku,” tambah seorang pengamat media.
Kasus Rizky juga membuka diskusi tentang tanggung jawab platform media sosial dalam mengawasi konten yang diunggah oleh penggunanya. Banyak yang berpendapat bahwa platform seharusnya lebih ketat dalam menegakkan kebijakan dan melindungi masyarakat dari konten yang merugikan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya kasus Rizky Kabah, harapan untuk masa depan adalah agar semua kreator konten lebih bijaksana dalam memilih tema dan materi yang akan disajikan. Kebebasan berekspresi memang penting, tetapi harus diimbangi dengan tanggung jawab. “Kami berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang, terutama generasi muda,” ungkap seorang aktivis.
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa mereka akan terus menindak tegas setiap konten yang mengandung ujaran kebencian atau provokasi. “Ruang digital bukan tempat bebas tanpa aturan. Kami ingin menegaskan bahwa setiap konten yang meresahkan publik akan ditindak sesuai hukum,” tegas Kombes Burhanuddin, Dirreskrimsus Polda Kalbar.
Dengan perjalanan yang penuh kontroversi ini, Rizky Kabah harus menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan dan ucapannya. Apakah ia akan mampu bangkit kembali setelah semua ini ataukah akan tenggelam dalam masalah hukum yang melilitnya? Masa depan kariernya kini bergantung pada proses hukum yang sedang berlangsung.
Kasus ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat tentang pentingnya menghormati budaya dan tradisi orang lain. Setiap orang harus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan saling menghargai.



















